Konsep-konsep
dan Pengetahuan Dasar Sosiologi
Resume
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Konsep
Dasar IPS II

oleh
Kelompok
III
Endang Herdawati :
1300587
Irma Suryani :
1300436
Rinda Aprilia : 1300494
Rinda Aprilia : 1300494
Suci Rahmania :
1300519
Winda Putri :
1300518
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
A. PENGERTIAN SOSIALISASI
Pengertian
sosialisasi banyak disampaikan oleh para ahli antara lain yaitu Nasution
(1999:126) menyatakan bahwa proses sosialisasi adalah proses membimbing
individu ke dalam dunia sosial. Menurut pandangan Kimball Young (Gunawan,
2000:33), sosialisasi ialah hubungan interaktif yang dengannya seseorang
mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural yang menjadikan seseorang
sebagai anggota masyarakat. Pendapat dua ahli tersebut sama-sama menyatakan
bahwa sosialisasi merupakan proses individu menjadi anggota masyarakat.
Pendapat
tentang pengertian sosialisasi juga disampaikan oleh Gunawan (2000:33) yang
menyatakan bahwa sosialisasi dalam arti sempit merupakan proses bayi atau anak
menempatkan dirinya dalam cara atau ragam budaya masyarakatnya
(tuntutan-tuntutan sosiokultural keluarga dan kelompok-kelompok lainnya).
Sedangkan Soekanto (1985:71) menyatakan bahwa sosialisasi mencakup proses yang
berkaitan dengan kegiatan individu-individu untuk mempelajari tertib sosial
lingkungannya, dan menyerasikan pola interaksi yang terwujud dalam konformitas,
nonkonformitas, penghindaran diri, dan konflik. Dari pendapat tersebut dapat
dikatakan bahwa dalam sosialisasi individu belajar menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
Susanto
(1983:12) menyatakan bahwa sosialisasi ialah proses yang membantu individu
melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan bagaimana cara
berfikir kelompoknya, agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa sosialisasi adalah proses
individu dalam mempelajari keperluan-keperluan sosial dan kultural di
sekitarnya yang mengarah ke dunia sosial.
B. PROSES SOSIALISASI
Sueann
Robinson Ambron (Yusuf, 2004:123) menyatakan bahwa sosialisasi itu sebagai
proses belajar yang membimbing anak ke arah perkembangan kepribadian sosial
sehingga dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi proses perlakuan dan bimbingan
orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial atau
norma-norma kehidupan bermasyarakat. Proses membimbing yang dilakukan oleh
orangtua tersebut disebut proses sosialisasi.
Khairuddin
(2002:65) mengungkapkan bahwa dalam proses sosialisasi, kegiatan-kegiatan yang
dicakup adalah:
1. Belajar (learning)
Menurut
Morgan C.T (Khairuddin, 2002:65), belajar adalah suatu perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman yang lalu. Proses
belajar individu berlangsung sepanjang hayat, yaitu belajar dari individu itu
lahir sampai ke liang lahat.
Ahmadi
(2004:154) mengungkapkan bahwa dalam proses sosialisasi individu mempelajari
kebiasaan, sikap, idea-idea, pola-pola dan tingkah laku dalam masyarakat di mana
dia hidup. Sosialisasi adalah masalah belajar. Dalam proses sosialisasi
individu belajar tentang kebudayaan dan keterampilan sosial seperti bahasa,
cara berpakaian, cara makan, dan sebagainya. Segala sesuatu yang dipelajari
individu mula-mula dipelajari dari orang lain di sekitarnya terutama anggota
keluarga. Individu belajar secara sadar dan tak sadar. Secara sadar individu
menerima apa yang diajarkan oleh orang di sekitarnya, misal seorang ibu
mengajarkan anaknya berbahasa dan bagaimana cara makan yang benar. Secara tidak
sadar, individu belajar dari mendapatkan informasi dalam berbagai situasi
dengan memperhatikan tingkah laku orang lain, menonton televisi, mendengar
percakapan orang lain, dan sebagainya.
2. Penyesuaian Diri dengan Lingkungan
Penyesuaian
diri merupakan kemampuan untuk mengubah diri sesuai dengan lingkungannya, atau
sebaliknya mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya.Penyesuaian diri
individu terbagi dua yaitu penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik yang
sering disebut dengan istilah adaptasi, dan penyesuaian diri dengan lingkungan
sosial yang disebut adjustment (Khairuddin, 2002:67).Adaptasi merupakan usaha
individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang lebih
bersifat fisik.Sedangkan adjusment merupakan penyesuaian tingkah laku terhadap
lingkungan sosialnya, di mana dalam lingkungan tersebut terdapat aturan-aturan
atau norma-norma yang mengatur tingkah laku dalam lingkungan sosial tersebut.
Khairuddin
(2002:68) menyebutkan bahwa untuk menilai berhasil atau tidaknya proses
penyesuaian diri, ada empat kriteria yang harus digunakan yaitu:
a.
Kepuasan psikis
Penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan kepuasan
psikis, sedangkan yang gagal akan menimbulkan rasa tidak puas.
b.
Efisiensi kerja
Penyesuaian diri yang berhasil akan nampak dalam
kerja/kegiatan yang efisien, sedangkan yang gagal akan nampak dalam
kerja/kegiatan yang tidak efisien. Misal, murid yang gagal dalam pelajaran di
sekolah.
c. Gejala-gejala fisik
Penyesuaian diri yang gagal akan nampak dalam gejala-gejala
fisik seperti: pusing kepala, sakit perut, dan gangguan pencernaan.
d. Penerimaan sosial
Penyesuaian diri yang berhasil akan menimbulkan reaksi setuju
dari masyarakat, sedangkan yang gagal akan mendapatkan reaksi tidak setuju
masyarakat.
Proses penyesuaian diri individu khususnya remaja dipengaruhi
oleh faktor internal dan eksternal (Hariyadi, 2003:143). Faktor internal yaitu
meliputi:
a. Motif-motif sosial, motif diartikan
sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk
berbuat (Rustiana, 2003:134).
b. Konsep diri, yaitu cara seseorang
memandang dirinya sendiri, baik mencakup aspek fisik, psikologis, sosial maupun
kepribadian.
c. Persepsi, yaitu pengamatan dan penilaian
seseorang terhadap obyek, peristiwa dan realitas kehidupan, baik itu melalui
proses kognisi maupun afeksi untuk membentuk konsep tentang obyek tersebut.
d. Sikap
remaja, yaitu kecenderungan seseorang untuk beraksi kearah hal-hal yang positif
atau negatif.
e. Intelegensi dan minat.
f. Kepribadian.
Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi proses
penyesuaian diri remaja yaitu:
a. Keluarga
dan pola asuh, meliputi pola demokratis, permisive (kebebasan), dan otoriter.
b. Kondisi
sekolah, yaitu antara kondisi yang sehat dan tidak sehat.
c. Kelompok
sebaya, yaitu merupakan teman sepermainan.
d. Prasangka
sosial, yaitu adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang menaruh prasangka
terhadap kehidupan remaja.
e. Faktor
hukum dan norma sosial, yang dimaksudkan di sini adalah pelaksanaan tegaknya
hukum dan norma-norma dalam masyarakat.
Faktor internal dan eksternal tersebut saling mempengaruhi
satu sama lain. Penyesuaian diri dilakukan melalui proses belajar sehingga
terjadi kebiasaan.
3. Pengalaman mental
Pengalaman
seseorang akan membentuk suatu sikap pada diri seseorang dimana didahului oleh
sikap terbentuknya suatu kebiasaan yang menimbulkan reaksi yang sama terhadap
masalah yang sama (Khairuddin, 2002:69). Seorang anak yang sejak kecil terbiasa
dengan bantuan orang lain untuk setiap pekerjaan yang harusnya dapat dikerjakan
sendiri, setelah dewasa nanti dia akan tergantung dengan orang lain.
Perkembangan
diri individu dimulai dengan proses sosialisasi, dan proses ini berlangsung
terus selama hidup. Proses sosialisasi terbagi menjadi dua periode, yaitu
sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder. Robinson (1986:58) mengungkapkan
bahwa lazimnya ahli-ahli ilmu pegetahuan sosial menamakan periode sosialisasi
yang pertama ketika seorang anak untuk pertama kali memperoleh identitasnya
sebagai pribadi (person) yang disebut dengan sosialisasi primer (primary
socialization).Sedangkan sosialisasi sekunder (secondary socialization)
berlangsung sesudah sosialisasi primer, yaitu dimana anak menjadi anggota
masyarakat yang luas.
Nasution
(1999:126) menyatakan bahwa seluruh proses sosialisasi berlangsung dalam
interaksi individu dengan lingkungannya. Sosialisasi tercapai melalui
komunikasi dengan anggota masyarakat lainnya. Hal tersebut juga disampaikan
oleh Susanto (1983:17) bahwa komunikasi merupakan dasar dari proses sosial.
Dalam interaksi sosial individu memperoleh “self concept” atau sesuatu
konsep tentang dirinya (Nasution, 1999:127). Individu akan lebih mengenal
dirinya dalam lingkungan sosialnya.
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PROSES SOSIALISASI
Individu
akan berkembang menjadi makhluk sosial melalui proses sosialisasi. Dalam proses
ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Menurut F.G. Robbins (Ahmadi,
2004:158), ada lima faktor yaitu:
1. Sifat dasar, yaitu merupakan
keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya.
2. Lingkungan prenatal, yaitu
lingkungan dalam kandungan ibu. Dalam periode ini individu mendapatkan
pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu, misal beberapa jenis penyakit
(diabetes, kanker, siphilis) berpengaruh secara tidak langsung terhadap
pertumbuhan mental, penglihatan, pendengaran anak dalam kandungan.
3. Perbedaan individual, meliputi
perbedaan dalam ciri-ciri fisik (bentuk badan, warna kulit, warna mata, dan
lain-lain), ciri-ciri fisiologis (berfungsinya sistem endokrin), ciri-ciri
mental dan emosional, ciri personal dan sosial.
4. Lingkungan, meliputi lingkungan
alam (keadaan tanah, iklim, flora dan fauna), kebudayaan, manusia lain dan
masyarakat di sekitar individu.
5. Motivasi, yaitu kekuatan-kekuatan
dari dalam diri individu yang menggerakkan individu untuk berbuat.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses sosialisasi tersebut berasal dari luar dan dalam diri
individu. Faktor yang berasal dari dalam diri individu yaitu sifat dasar,
perbedaan individual, dan motivasi.Sedangkan faktor yang berasal dari luar
individu yaitu lingkungan prenatal, dan lingkungan sekitar.
D. KENDALA DAN PENDUKUNG PROSES
SOSIALISASI
Nasution
(1999:127-128) menyebutkan bahwa dalam proses sosialisasi tidak selalu berjalan
lancar karena adanya sejumlah kendala, yaitu:
1.
Kesulitan komunikasi.
Komunikasi merupakan suatu proses interaksi dengan suatu
stimulus (rangsangan) yang memperoleh suatu arti tertentu dijawab oleh orang
lain (respon) secara lisan, tertulis maupun dengan aba-aba (Susanto, 1983:15).
Kesulitan komunikasi dalam proses sosialisasi yaitu terjadi bila anak tidak
mengerti apa yang diharapkan darinya atau tidak tahu apa yang diinginkan oleh
masyarakat atau tuntutan kebudayaan tentang kelakuannya.
2. Adanya pola kelakuan yang
berbeda-beda atau yang bertentangan.
3. Perubahan-perubahan yang terjadi
dalam masyarakat sebagai akibat modernisasi industrialisasi, dan urbanisasi.
Menurut Gunawan (2000:48), dalam proses sosialisasi bisa
terjadi kendala atau hambatan, hal ini karena:
1. Terjadinya kesulitan komunikasi.
Kesulitan komunikasi terjadi karena yang berkomunikasi adalah
manusia dengan segala perbedaannya. Djamarah (2004:63) menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi dalam keluarga yaitu: citra diri dan
citra orang lain, suasana psikologis, lingkungan fisik, kepemimpinan, bahasa,
dan perbedaan usia. Citra diri yaitu ketika orang berhubungan dan berkomunikasi
dengan orang lain, dia merasa dirinya sebagai apa dan bagaimana. Suasana
psikologis mempengaruhi komunikasi, komunikasi sulit berlangsung jika seseorang
dalam keadaan marah, kecewa, bingung, diliputi prasangka, dan suasana
psikologis lainnya. Lingkungan fisik juga mempengaruhi komunikasi, karena
komunikasi dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja dengan gaya dan cara
yang berbeda. Selain itu cara kepemimpinan (otoriter, demokratis, laissez
faire), penggunaan bahasa, dan perbedaan usia juga mempengaruhi proses
komunikasi.
2. Adanya pola kelakuan yang
berbeda-beda atau bertentangan.
Pola kelakuan berbeda-beda atau bertentangan yang diperoleh
anak dapat mempengaruhi proses sosialisasi. Anak akan merasa bingung dengan
perbedaan tersebut.
Pendapat para ahli di atas pada dasarnya sama, yaitu
menyatakan bahwa kendala dalam proses sosialisasi meliputi adanya kesulitan
komunikasi, pola kelakuan yang berbeda, dan akibat perubahan dalam masyarakat.
Proses sosialisasi selain memiliki kendala juga memiliki pendukung.
Gunawan (2000:49) menyatakan bahwa sosialisasi yang sukses bila disertai dengan
toleransi yang tulus, disiplin dan patuh terhadap norma-norma masyarakat,
hormat-menghormati, dan harga-menghargai.Dengan pendukung tersebut, proses
sosialisasi dapat berjalan dengan baik.
E. MEDIA SOSIALISASI
Sosialisasi
dapat terjadi melalui interaksi social secara langsung ataupun tidak langsung.
Proses sosialisasi dapat berlangsung melalui kelompok social, seperti keluarga,
teman sepermainan dan sekolah, lingkungan kerja, maupun media massa. Adapun
media yang dapat menjadi ajang sosialisasi adalah keluarga, sekolah, teman
bermain media massa dan lingkungan kerja.
1.
Keluarga
Pertama-tama yang dikenal oleh anak-anak adalah ibunya,
bapaknya dan saudara-saudaranya. Kebijaksanaan orangtua yang baik dalam proses
sosialisasi anak, antara lain: a. Berusaha dekat dengan
anak-anaknya
b. Mengawasi
dan mengendalikan secara wajar agar anak tidak merasa tertekan
c.
Mendorong agar anak mampu membedakan
benar dan salah, baik dan buruk
d.
Memberikan keteladanan yang baik
e. Menasihati anak-anak jika melakukan
kesalahan-kesalahan dan tidak menjatuhkan hukuman di luar batas kejawaran.
f. Menanamkan nilai-nilai religi
baik dengan mempelajari agama maupun menerapkan ibadah dalam keluarga.
2. Sekolah
Pendidikan di sekolah merupakan wahana sosialisasi sekunder
dan merupakan tempat
berlangsungnya
proses sosialisasi secara formal. Robert Dreeben berpendapat bahwa yang
dipelajari seorang anak di sekolah tidak hanya membaca, menulis, dan berhitung
saja namun juga mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement),
universalisme (universal) dan kekhasan / spesifitas (specifity).
3. Teman bermain (kelompok bermain)
Kelompok bermain mempunyai pengaruh besar dan berperan kuat dalam
pembentukan kepribadian anak. Dalam kelompok bermain anak akan belajar
bersosialisasi dengan teman
sebayanya. Puncak pengaruh teman bermain adalah masa remaja.Para remaja
berusaha untuk melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku bagi kelompoknya
itu berbeda dengan nilai yang berlaku pada keluarganya, sehingga timbul konflik
antara anak dengan anggota keluarganya. Hal ini terjadi apabila para remaja
lebih taat kepada nilai dan norma kelompoknya.
4. Media Massa
Media massa seperti media cetak, (surat kabar, majalah,
tabloid) maupun media elektronik (televisi, radio, film dan video). Besarnya
pengaruh media massa sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang
disampaikan.
Contoh :
Contoh :
a. Adegan-adegan yang berbau
pornografi telah mengikis moralitas dan meningkatkan pelanggaran susila di
dalam masyarakat
b. Penayangan berita-berita
peperangan, film-film, dengan adegan kekerasan atau sadisme diyakini telah
banyak memicu peningkatan perilaku agresif pada anak-anak yang menonton.
c. Iklan produk-produk tertentu telah
meningkatkan pola konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
5. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan media sosialisasi yang terakhir
cukup kuat, dan efektif mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.
a.
Lingkungan kerja dalam panti asuhan
Orang yang bekerja di lingkungan panti asuhan lama
kelamaan terbentuk kepribadian dengan tipe memiliki rasa kemanusiaan yang
tinggi, sabar dan penuh rasa toleransi.
b. Lingkungan kerja dalam perbankan
Lingkungan
ini dapat membuat seseorang menjadi sangat penuh perhitungan terutama terhadap
hal-hal yang bersifat material dan uang.
F. TUJUAN SOSIALISASI
Ada empat tujuan mempelajari
sosiologi, yaitu sebagai berikut.
- Dengan mempelajari sosiologi, kita akan dapat melihat dengan lebih jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota kelompok atau masyarakat.
- Sosiologi membantu kita untuk mampu mengkaji tempat kita di masyarakat, serta dapat melihat budaya lain yang belum kita ketahui.
- Dengan bantuan sosiologi, kita akan semakin memahami pula norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain, dan memahami perbedaan-perbedaan yang ada tanpa hal itu menjadi alasan untuk timbulnya konflik di antara anggota masyarakat yang berbeda.
- Kita sebagai generasi penerus, mempelajari sosiologi membuat kita lebih tanggap, kritis, dan rasional menghadapi gejala-gejala sosial masyarakat yang makin kompleks dewasa ini, serta mampu mengambil sikap dan tindakan yang tepat dan akurat terhadap setiap situasi sosial yang kita hadapi sehari-hari.
Setiap orang pada umumnya kurang menyadari bahwa dirinya telah melakukan
proses sosialisasi. Apalagi bagi anak-anak kecil, mereka kurang tahu bahwa
proses sosialisasi sangat bermanfaat bagi dirinya dalam proses mengarungi
kehidupan ditengah-tengah masyarakat. Melalui proses sosialisasi, seorang
individu akan mendapatkan banyak hal, antara lain sebagai berikut:
1. Untuk
mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat
Setiap masyarakat memiliki sistem tata nilai yang berbeda-beda. Oleh sebab
itu, bagi yang memasuki lingkungan sosial baru perlu mengetahui sistem tata
kelakuan, sistem tata peradaban, sistem tata nilai, serta tata adat-istiadat
yang berlaku di daerah itu. dengan demikian tidak akan mengakibatkan kegagalan
dalam proses pergaulan.
2. Untuk
mengetahui lingkungan sosial
Lingkungan sosial, meliputi pihak-pihak yang mempunyai keterkaitan
aktivitas individu tersebut.
3. Untuk mengetahui lingkungan budaya
suatu masyarakat
Pada gilirannya, proses sosialisasi akan mendapatkan pengetahuan tentang
apa yang harus diperbuat oleh seseorang berdasarkan status yang dimiliki.
Dengan demikian seorang individu telah mendapatkan pengetahuan tentang
lingkungan sosial dan budaya di dalam masyarakat, dengan melalui proses
sosialisasi inilah seorang individu dapat menyesuaikan diri di tengah-tengah
masyarakat.
4. Untuk
mengetahui lingkungan alam sekitar
Dengan mengetahui lingkungan fisik dari suatu daerah, seseorang akan:
mengenal arah, mengenal posisi, mengenal kedudukan, mengenal skema dan mengenal
sub-sub area yang berada di lingkungan baru tersebut.
Tidak semua proses sosialisasi yang dilakukan diterima dengan baik. Kadang kala
dalam melakukan proses sosialisasi ditemui banyak kendala seperti penolakan,
dan ini dapat dilihat dengan perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh manusia.
Sedangkan indikator keberhasilan proses sosialisasi berjalan dengan dengan baik
apabila:
a.
Meningkatnya
status yang seringkali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan daan meningkatnya
peranan sosial di lingkungan sosial yang baru
b.
Terintegrasi
secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas yang ditandai
dengan keakraban dan persaudaraaan di antara individu tersebut dengan
masyarakat yang lain,
c. Dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya.
DAFTAR
RUJUKAN
Nasution.
1999. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi aksara.
Gunawan, Ary H. 2000. Sosiolosi Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Soekanto, Soerjono. 1985. Sosiologi Ruang Lingkup
dan Aplikasinya. Bandung: Remadja Karya.
Susanto, Phil Astrid S. 1983. Pengantar Sosiologi
dan Perubahan Sosial. Bina Cipta.
Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak
dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Robinson, Philip. 1986. Sosiologi Pendidikan.
Jakarta: Rajawali.
Khairuddin. 2002. Sosiologi Keluarga.
Yogyakarta: Liberty.
Ahmadi, Abu. 2004. Sosiologi Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hariyadi, Sugeng. Dkk. 2003.Psikologi Perkembangan.
Semarang: UPT UNNES Press.
Rustiana, Eunike R. 2003. Pengantar Psikologi Umum.
Semarang.
http://budakbangka.blogspot.com/2010/01/pengertian-sosialisasi.html